Fenomena anak sekolah zaman sekarang
Belakangan ini sering muncul di media sosial fenomena siswa yang merayakan kelulusan dengan mencoret-coret seragam, menyiram air, tepung, atau bahan lain ke tubuh dan pakaian. Dalam beberapa kasus, pakaian yang basah menjadi ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuh atau aurat yang seharusnya tertutup. Fenomena ini kemudian menjadi konten yang diunggah dan disebarluaskan di media sosial.
1. Perspektif Budaya
Dari sisi budaya, perayaan kelulusan sebenarnya merupakan bentuk ekspresi kegembiraan setelah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Namun, tradisi corat-coret seragam bukanlah budaya asli yang memiliki nilai pendidikan yang kuat, melainkan kebiasaan yang berkembang dan ditiru dari generasi ke generasi.
Budaya yang baik seharusnya mengandung nilai positif, seperti rasa syukur, penghormatan kepada guru, kepedulian sosial, dan tanggung jawab. Ketika perayaan justru mengarah pada pemborosan, perusakan seragam yang masih layak pakai, atau tindakan yang mengurangi kehormatan diri, maka perlu dikaji kembali apakah kebiasaan tersebut masih layak dipertahankan sebagai budaya kelulusan.
2. Perspektif Psikologi
Secara psikologis, remaja berada pada fase pencarian identitas diri. Mereka cenderung ingin diakui oleh kelompoknya dan mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, tindakan yang dianggap "seru", "viral", atau "keren" sering dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Selain itu, media sosial memberikan dorongan tambahan berupa keinginan mendapatkan komentar, likes, dan perhatian. Akibatnya, sebagian remaja mungkin melakukan tindakan yang lebih ekstrem demi memperoleh respons dari publik. Dalam kondisi ini, kebutuhan akan penerimaan sosial sering kali lebih dominan daripada pertimbangan moral atau keselamatan diri.
3. Perspektif Sosial
Dari sudut pandang sosial, fenomena ini menunjukkan kuatnya pengaruh kelompok sebaya (peer group). Banyak siswa mengikuti kegiatan tersebut bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut dianggap tidak kompak atau berbeda dari teman-temannya.
Di sisi lain, penyebaran video dan foto di media sosial dapat menimbulkan dampak yang lebih luas. Konten yang memperlihatkan aurat atau perilaku yang kurang pantas dapat menjadi konsumsi publik tanpa batas usia. Bahkan, jejak digital tersebut dapat bertahan bertahun-tahun dan berpotensi memengaruhi citra seseorang di masa depan.
Karena itu, masyarakat perlu mendorong bentuk perayaan yang lebih positif, seperti kegiatan sosial, santunan, penanaman pohon, atau acara syukuran yang tetap menyenangkan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
4. Perspektif Agama (Islam)
Dalam Islam, rasa bahagia atas suatu pencapaian merupakan hal yang diperbolehkan bahkan dianjurkan dalam bentuk syukur kepada Allah. Namun, cara mengekspresikannya tetap harus berada dalam batas-batas syariat.
Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menjaga aurat serta kehormatan diri. Ketika pakaian dibuat basah hingga memperlihatkan lekuk tubuh atau aurat, maka hal tersebut bertentangan dengan tujuan berpakaian dalam Islam, yaitu menutup dan menjaga kehormatan.
Selain itu, Islam juga mengajarkan untuk menghindari tabarruj (menampakkan perhiasan atau keindahan tubuh secara berlebihan di hadapan yang bukan mahram), menjaga rasa malu (haya'), dan menjauhi tindakan yang dapat mengundang pandangan yang tidak baik dari orang lain.
Kelulusan seharusnya menjadi momentum syukur yang diwujudkan dengan cara yang lebih bermanfaat, seperti berdoa, bersedekah, meminta restu orang tua dan guru, atau melakukan kegiatan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Kesimpulan:
Fenomena corat-coret dan membasahi pakaian saat kelulusan muncul karena perpaduan antara kebiasaan budaya, kebutuhan psikologis remaja untuk diakui, pengaruh lingkungan sosial, dan dorongan media sosial. Namun, jika praktik tersebut sampai memperlihatkan aurat atau mengurangi kehormatan diri, maka perlu dikritisi dari sisi budaya, sosial, maupun agama. Perayaan kelulusan akan lebih bermakna apabila diisi dengan ungkapan syukur dan kegiatan positif yang mencerminkan kedewasaan serta tanggung jawab sebagai lulusan.


Komentar
Posting Komentar