Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sehari-hari

Nama              : Muslim Abdur Rahman

Nim                 : 240101067

Kelas               : 3.C

Prodi               : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Fakultas          : Tarbiyah

Mahasiswa     : Institut Agama Islam Al-Qur'an Al-Ittifaqiah Indralaya 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya. Formulir dan kegiatan ini dibuat untuk membantu peserta didik memahami lebih dalam tentang akhlak, yaitu perilaku atau budi pekerti yang menjadi cerminan keimanan seseorang.



Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat:

  • Memahami pengertian akhlak, baik terpuji maupun tercela,
  • Mengenal contoh-contoh akhlak dalam kehidupan sehari-hari,
  • Menyadari pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW,
  • Mampu menilai dan menerapkan perilaku berakhlak mulia di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta didik diharapkan mampu:
  1. Menjelaskan pengertian akhlak menurut Islam.
  2. Membedakan antara akhlak terpuji dan akhlak tercela.
  3. Menyebutkan contoh-contoh perilaku berakhlak mulia.
  4. Mengidentifikasi akibat dari perilaku tercela.
  5. Menunjukkan sikap jujur, amanah, sabar, dan rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
1. Pengertian Akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “khuluq” yang berarti perangai, tabiat, atau kebiasaan.
Menurut Imam Al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong seseorang untuk bertindak tanpa perlu berpikir terlebih dahulu.
Artinya, akhlak adalah cerminan karakter sejati seseorang.

2. Macam-Macam Akhlak

Akhlak terbagi menjadi dua:

a. Akhlak Terpuji (Mahmudah)
Yaitu sifat dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam dan mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Akhlak terpuji (akhlaq al-mahmudah) adalah sikap dan perilaku baik yang diajarkan oleh Islam dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Akhlak terpuji mencerminkan kesempurnaan iman dan ketaatan kepada Allah SWT.

Contohnya:
1 Jujur (Ṣidq)
Jujur berarti berkata dan berbuat sesuai dengan kenyataan. Orang yang jujur tidak berbohong, tidak menipu, dan tidak menutupi kebenaran demi kepentingan pribadi.

Dalil:
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah, dan jadilah bersama orang-orang yang jujur.”
(QS. At-Taubah [9]: 119)

Contoh perilaku jujur:
  • Mengatakan yang sebenarnya walaupun merugikan diri sendiri.
  • Tidak mencontek saat ujian.
  • Tidak memalsukan tanda tangan atau data.
Makna penting dari Kejujuran:
Kejujuran adalah dasar kepercayaan dan kunci keberkahan dalam hidup.

2) Amanah (Dapat Dipercaya)
Amanah berarti menjaga dan melaksanakan tanggung jawab dengan baik. Orang yang amanah tidak mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah.”
(HR. Ahmad)

Contoh perilaku amanah:
  • Menjaga rahasia teman.
  • Melaksanakan tugas yang diberikan guru atau orang tua dengan sungguh-sungguh.
  • Mengembalikan barang yang dipinjam.
Makna penting dari Amanah:
Sikap amanah melatih seseorang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dipercaya oleh orang lain.

3) Sabar
Sabar berarti menahan diri dari keluh kesah dan tetap tabah menghadapi ujian atau kesulitan. Sabar bukan berarti pasif, tetapi tetap berusaha dengan tenang.

Dalil:
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 153)

Contoh perilaku sabar:
  • Tidak marah ketika diejek teman.
  • Tetap berusaha meski hasil belum sesuai harapan.
  • Bersabar dalam belajar dan menuntut ilmu.
Makna penting dari Sabar:
Sabar adalah kekuatan hati yang membuat seseorang tetap teguh dan tenang dalam setiap keadaan.

4) Tawakal
Tawakal berarti berserah diri kepada Allah SWT setelah berusaha secara maksimal. Tawakal bukan menyerah tanpa usaha, tetapi percaya penuh pada ketentuan Allah setelah melakukan yang terbaik.

Dalil:
Allah SWT berfirman:

“Dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 3)

Contoh perilaku tawakal:
  • Setelah belajar dengan sungguh-sungguh, menyerahkan hasilnya kepada Allah.
  • Tidak putus asa saat gagal, karena percaya Allah punya rencana lebih baik.
Makna penting dari Tawakal:
Tawakal menumbuhkan rasa tenang, percaya diri, dan ikhlas dalam menghadapi hasil kehidupan.

5) Rendah Hati (Tawadhu‘)
Rendah hati berarti tidak sombong atau merasa lebih baik dari orang lain. Orang yang tawadhu‘ mengakui bahwa semua kelebihan berasal dari Allah SWT.

Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.”
(HR. Muslim)

Contoh perilaku rendah hati:
  • Tidak membanggakan diri di depan orang lain.
  • Menghargai pendapat orang lain.
  • Mau meminta maaf jika berbuat salah.
Makna penting Tawakal:
Rendah hati menjadikan seseorang disukai dan dihormati oleh banyak orang, serta menjauhkan dari sifat sombong.

6) Menghormati Orang Lain (Terutama Orang Tua dan Guru)
Menghormati berarti bersikap sopan, santun, dan menghargai kedudukan orang lain, terutama kepada orang tua, guru, dan sesama.

Dalil:
Allah SWT berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (orang tuamu) dengan penuh kasih sayang.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 24)

Contoh perilaku menghormati:
  • Bersikap sopan kepada guru dan orang tua.
  • Tidak membantah atau berbicara kasar.
  • Mendengarkan nasihat dengan baik.
Makna penting dari Menghormati orang tua:
Menghormati orang tua dan guru adalah wujud rasa syukur atas jasa mereka dan tanda iman yang kuat kepada Allah SWT.

b. Akhlak Tercela (Madzmumah)
Yaitu perilaku buruk yang dilarang oleh Islam dan membawa kerugian bagi diri dan masyarakat. Akhlak tidak terpuji atau akhlak tercela adalah segala perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam dan dapat merusak hubungan manusia dengan Allah SWT maupun sesama. Akhlak buruk ini timbul dari hati yang tidak bersih, kurang iman, dan nafsu yang tidak terkendali. Islam sangat menekankan agar umatnya menjauhi sifat-sifat buruk ini karena akan menimbulkan dosa, permusuhan, dan kebinasaan.
Contohnya:

1) Dusta (Bohong)
Dusta berarti berkata tidak sesuai kenyataan atau menyembunyikan kebenaran untuk kepentingan tertentu.

Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:
“Hendaklah kamu jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Contoh perilaku dusta:
  • Berbohong kepada orang tua atau guru.
  • Mengarang alasan palsu agar tidak ditegur.
  • Menipu dalam jual beli atau ujian.
Makna penting dari Dusta:
Dusta merusak kepercayaan dan menjauhkan seseorang dari sifat mulia.

2) Khianat
Khianat berarti tidak menepati janji atau mengabaikan kepercayaan yang telah diberikan.

Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seseorang berkhianat, maka hilanglah keimanannya.”
(HR. Ahmad)

Contoh perilaku khianat:
  • Tidak menepati janji yang telah dibuat.
  • Mengungkap rahasia orang lain.
  • Menyalahgunakan kepercayaan dari orang tua, teman, atau guru.
Makna penting:
Sifat khianat merusak hubungan sosial dan menunjukkan lemahnya iman seseorang.

3) Hasad (Iri dan Dengki)
Hasad adalah tidak senang melihat orang lain mendapat nikmat, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya.

Dalil:
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang Allah berikan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 32)

Contoh perilaku hasad:
  • Tidak senang melihat teman berhasil.
  • Membicarakan keburukan orang yang lebih baik.
  • Berharap orang lain gagal.
Makna penting Hasad:
Hasad membuat hati gelisah dan menghalangi seseorang untuk bersyukur atas nikmat Allah.

4) Riya (Pamer Amal)
Riya adalah berbuat baik dengan tujuan ingin dipuji orang lain, bukan karena Allah SWT.

Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya.”
(HR. Ahmad)

Contoh perilaku riya:
  • Beribadah supaya dianggap alim.
  • Bersedekah hanya agar dipuji.
  • Membantu orang lain demi mendapatkan popularitas.
Makna penting dari Riya:
Riya menghapus pahala amal karena niatnya bukan untuk Allah, melainkan untuk manusia.

5) Sombong (Takabur)
Sombong berarti merasa diri lebih baik, lebih tinggi, atau lebih hebat daripada orang lain.

Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.”
(HR. Muslim)

Contoh perilaku sombong:
  • Merendahkan teman yang kurang pintar atau miskin.
  • Menolak nasihat orang lain.
  • Membanggakan diri dan menghina orang lain.
Makna penting dari Sombong:
Sombong menjauhkan seseorang dari kerendahan hati dan kasih sayang Allah.

6) Ghibah (Menggunjing)
Ghibah adalah membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain yang jika ia tahu, pasti tidak akan suka — meskipun benar.

Dalil:
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Contoh perilaku ghibah:
  • Membicarakan aib teman di belakangnya.
  • Menyebarkan gosip yang belum pasti kebenarannya.
  • Mengomentari keburukan orang di media sosial.
Makna penting dari Ghibah:
Ghibah menimbulkan permusuhan, dosa besar, dan hilangnya kehormatan seseorang.

3. Dalil Tentang Akhlak

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qalam [68]: 4:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Hadis Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Ayat dan hadis di atas menegaskan bahwa kesempurnaan iman dan keislaman seseorang dapat dilihat dari akhlaknya.

4. Pentingnya Akhlak dalam Kehidupan
  • Akhlak adalah buah dari keimanan. Orang yang imannya kuat akan berperilaku baik.
  • Akhlak menciptakan hubungan harmonis antar manusia.
  • Akhlak menjadi tolok ukur kemuliaan seseorang, bukan harta atau kedudukan.
  • Akhlak yang baik membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.
5. Cara Menumbuhkan Akhlak Terpuji
  • Meneladani akhlak Rasulullah SAW.
  • Membiasakan diri berbuat baik sejak kecil
  • Menghindari teman atau lingkungan yang berperilaku buruk.
  • Menuntut ilmu dan mengamalkan ajaran agama.
  • Berdoa agar diberi kekuatan menjaga hati dan perilaku.

Kesimpulan:
Akhlak merupakan cerminan dari keimanan dan keislaman seseorang. Seorang Muslim yang baik tidak hanya memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga memperindah dirinya dengan akhlak mulia terhadap sesama manusia dan lingkungan sekitarnya.

Akhlak yang baik lahir dari iman yang kuat, ilmu yang benar, serta pembiasaan diri dalam berbuat kebaikan. Dengan akhlak yang mulia, seseorang akan disukai oleh Allah SWT dan dicintai oleh manusia. Sebaliknya, akhlak tercela seperti sombong, iri, riya, dan ghibah hanya akan menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan hidup.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, marilah kita meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, jujur dalam ucapan, sabar dalam menghadapi cobaan, amanah dalam tanggung jawab, serta rendah hati dalam bergaul. Dengan membiasakan akhlak mulia, kita tidak hanya menjadi pribadi yang baik di dunia, tetapi juga memperoleh kemuliaan di sisi Allah SWT di akhirat kelak.


Referensi

Al-Ghazali, Imam. (2000). Ihya’ Ulumuddin (Jilid II). Kairo: Dar al-Ma’arif.

Al-Nawawi, Imam. (1995). Riyadhus Shalihin. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Syaibani, Omar Mohammad Al-Toumy. (1991). Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Departemen Agama Republik Indonesia. (2013). Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Departemen Agama RI.

Departemen Agama Republik Indonesia. (2010). Pendidikan Agama Islam untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Hamka. (1983). Tasawuf Modern. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Hasan, Langgulung. (2003). Pendidikan Islam: Menghadapi Abad ke-21. Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru.

Nata, Abuddin. (2016). Akhlak Tasawuf. Jakarta: Rajawali Pers.

Shihab, M. Quraish. (2007). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.

Zuhdi, M. (2019). Pendidikan Akhlak dalam Perspektif Islam. Yogyakarta: Deepublish.

Demikianlah pembahasan mengenai Akhlak Terpuji dan Akhlak Tidak Terpuji dalam Islam. Dari materi ini kita belajar bahwa akhlak merupakan cerminan dari keimanan seseorang. Seorang Muslim sejati tidak hanya beribadah kepada Allah SWT, tetapi juga berperilaku baik kepada sesama makhluk. Dengan membiasakan akhlak terpuji seperti jujur, amanah, sabar, tawakal, rendah hati, dan menghormati, serta menjauhi akhlak tercela seperti dusta, khianat, hasad, riya, sombong, dan ghibah, kita akan menjadi pribadi yang mulia di dunia dan beruntung di akhirat.

Sebagai tindak lanjut dari pembelajaran ini, silakan ikuti langkah-langkah berikut:

Video Pembelajaran:

KLIK LINK, tonton video YouTube untuk memahami kembali materi akhlak terpuji dan tidak terpuji.



PPT Pembelajaran :

KLIK LINK, lihat ringkasan materi dalam bentuk PowerPoint agar lebih mudah dipelajari.

Kerjakan Soal Evaluasi :

KLIK LINK, jawab soal pilihan ganda, skala linier, dan angket untuk mengukur pemahaman kamu terhadap materi ini.

Lihat Nilai Hasil Pengerjaan:

KLIK LINK, buka tautan ini untuk melihat hasil penilaian dan umpan balik dari guru.

Video Pengajaran Kepada Siswa/Siswi dari SMAN 2 Indralaya : KLIK LINK


Dan ini adalah foto bersama Siswa/Siswi di kelas XI.1 :





Semoga dengan pembelajaran ini, kita semua dapat memperbaiki diri, meneladani akhlak Rasulullah SAW, dan menjadi insan yang beriman, berilmu, serta berakhlak mulia.

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Soal SKI

Tantangan Implementasi Media Berbasis IT